Tugas
Individu
Mata
kuliah : Filsafat Pendidikan Ilmu
Dosen : Drs. Abd. Karim, M.Pd
Pengertian dan Kedudukan
Filsafat Pendidikan Islam
Oleh :
Abd.Kadir
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH
ALMAWADDAH WARRAHMAH
KOLAKA
2014
A.
Pengantar
Dorongan ingin
tahu ( curiosity ) sebagai hasrat alamiah manusia merupakan entry
point bagi lahirnya ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kelahiran ilmu
pengetahuan akan selalu diawali oleh rasa keingintahuan manusia akan segala
sesuatu. Apa yang diketahui manusia disebut pengetahuan. Ilmu yang mengkaji
pengetahuan manusia disebut Filsafat Pengetahuan. Menurut Koento Wibisono, ilmu
ini lahir semenjak Immanuel Kant ( 1724 – 1804 M ) menyatakan bahwa filsafat
merupakan disiplin ilmu yang menunjukan batas – batas dan ruang lingkup
pengetahuan secara tepat. Ilmu ini sebagai kelengkapan mempunyai empat sarana
untuk mengkaji pengetahuan manusia, yaitu bahasa, logika, matematika, dan
statistika. Bahasa digunakan untukmenyampaikan isi fikiran kepada orang lain
dengan didasarkan pada proses logika
deduktif dan induktif. Matematika berperan membantu berfikir deduktif, sedangkan statistika
berperan membantu berfikir induktif.
Filsafat
pengetahuan berfungsi menyelidiki dan mengkaji berbagai macam sumber
pengetahuan. Di dalam filsafat pengetahuan, disebutkan sumber-sumber
pengetahuan manusia, adalah akal, pancaindra, akal budi, dan intuisi. Manusia
melalui sumber-sumber ini mengenal tiga model pengetahua. Pertama denga
secara sadar dan berkelanjutan orang menempuh cara untuk menguasai serta
mengubah objek melalui upaya-upaya konkret dan secara langsung menuju kearah
kemajuan ataupun pembaharuan. Kedua, dengan cara mengasingkan diri
secara fisik dan ruhani. Ketiga, dengan membungkus objek yang dijadikan
sasaran, yaitu dengan memperindah ke sesuatu yang ideal sehingga terwujud apa
yang disebut nilai-nilai seni, sastra, mitodologi yang bermuatan etik atau
moral.
Model pertama
disebut pengetahuan ilmiah, model kedua disebut
pengetahuan nonilmiah, dan model ketiga disebut prailmiah. Dari ketiga
model pengetahuan manusia ini, kiranya
hanya model pertama yang dapat disebut sebagai pengetahuan ilmiah atau ilmu
pengetahuan. Hal ini Karena tradisi intelektual menyatakan apa yang disebut
ilmu pengetahuan harus memenuhi enam syarat sebagai berikut.
1.
Mempunyai objek tertentu yang
dijadikan sasaran penyelidikan ( objek formal ). Perbedaan satu ilmu
pengetahuan dengan ilmu pengetahun yang lainnya terletak pada sudut pandang (
objek formal ) yang digunakannya.
2.
Mengkaji metode tertentu sebagai
sarana untuk menemukan, mengkaji, dan menyusun data.
3.
Responsible, artinya apa yang
difikirkan dan dihasilkannya dapat dipertanggungjawabkan dengan penalaran yang
runtut.
4.
Segala sesuatu yang merupakan jawaban
dari proses itu diletakkan dan disusun kembali kedalam sebuah system.
5.
Setiap ilmu pengetahuan selalu
membuka diri. Sehingga dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak
menghasilkan kesimpulan yang bersifat
generalisasi. Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran yan ada hanyalah relative
dan tentative.
6.
Ilmu pengetahuan memiliki paradigma
ilmu yang dapat diterima semua kalangan.
Pengetahuan
ilmiah akan dapat menghasilkan kebenaran ilmiah yaitu sebuah kebenaran yang
diperoleh dengan sarana dan tatacara tertentu yang hasilnya dapaot dikaji ulang
oleh siapapun dan kapanpun dengan kesimpulan yang sama. Oeh karena kebenaran
ilmiah yang dihasilkan , ia disebut a higher level of knowledge pengetahuan
ilmiah ini secara terus menerus
dikembangkan dan dikaji manusia secara mendalam sehingga melahirkan apa yang
disebut filsafat ilmu.
Didalam
filsafat ilmu, dibahas tiang-tiang penyangga eksistensi sebuah ilmu, yang
merupakan cabang-cabang utama filsafat ilmu. Tiang penyangga ilmu terdiri dari
3 aspek, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
B.
Pengertian Filsafat Pendidikan
Islam.
Ada dua
pendapat berbeda mengenai asal-usul terma filsafat secara etimologi. Pendapat pertama
menyebutkan bahwa filsafat berasal dari bahasaArab, falsafah. Pendapat
ini diantaranya dikemukakan oleh Harun Nasution . menurutnya, filsafat berasal
dari bahasa Arab, falsafa dengan timbangan fa’lala, fa’lalah dan
fi’lal. Sehingga Harun Nasution ingin menegaskan bahwa terma filsafat itu
berasal dari bahasa Arab, seharusnya diungkapkan falsafah atau falsafat,
bukan filsafat.
Pendapat kedua
menyatakan bahwa terma filsafat berasal dari kata bahasa Inggris philo dan sophos. Philo berarti
cinta, dan sophos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini kebanyakan dikemukakan
oleh penulis berbahasa inggris, seperti Louis O kattsoff. Dari kedua pendapat
inilah kemudian memunculkan pendapat yang ketiga yang menggabungkan antara
keduanya. Pendapat ini dikemukakan oleh
filsuf Islam Al-Farabi ( w.950 M ). Menurutnya filsafat berasal dari bahasa
yunani yang mmasuk dan digunakan sebagai bahasa Arab, yaitu berasal dari kata philosophia.
Philo berarti cinta, sedangkan Sophia berarti Hikmah. Namun
demikian, meskipun kata filsafat berasal dar bahasa yunani, tidak berarti orang
yunani kuno adalah perintis pertama pemikiran filsafat di dunia. Sebelum Yunani
kuno, ada Negara lain seperti Mesir, Cina, dan India yang sudah mempunyai
tradisi filsafat, meskipun mereka tidak menggunakan kata philosophia
untuk maksud yang sama.
Filsafat,
falsafah atau philosophia secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksaan atau
cinta kepada kebenaran. Makudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi
bijaksana. Orang yang cinta keada pengetahuan disebut philosopher, yang dalam
bahasa Arab disebut failasuf. Pecinta pengetahuan ialah orang yang
menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya. Dengan kata lain, ia
mengabdikan diri dan hidupnya kepada pengetahuan. Filsafat secara sederhana
berarti “ alam fikiran “ atau “ alam berfikir “. Berfilsafat artinya berfikir.
Namun, tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir
secara mendalam ( radikal ) dan sungguh-sungguh.
Filsafat adalah
hasil akal budi manusia mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan
sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari
dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala hal.
Berikut akan
dikemukakan beberapa pengertian filsafat
menurut para ahli, mulai dari klasik hingga modern.
1.
Plato ( 427 – 347 SM ) menyatakan bahwa filsafat itu tidak lain
dari pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada.
2.
Aristoteles ( 348 – 322 SM )
berpendapat bahwa filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.
3.
Al-Farabi ( w. 950 M ) mengungkapkan
bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan
menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
4.
Dictionary of
Philosophy mengungkapkan bahwa mencari kebenaran serta mencari kebenaran itu
adalah filsafat. Bila sesesorang menjawab sesuatu secara sistematis, radikal,
dan universal serta bertanggungjawab, sistem pemikiran serta kegiatan itu
disebut filsafat.
Dari banyak
pengertian filsafat yang dikemukakan, kiranya dapat dikatakan bahwa para ahli
telah merumuskan filsafat secara berbeda-beda. Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat sulit untuk didefinisikan.
Oleh karena itu, Mohammad Hatta dan langeveld menyarankan agar filsafat itu
tidak didefinisikan.
dalam
pengertian ini ada lima unsur yang mendasari sebuah pemikiran filsafat, sebagai
berikut.
a.
Filsafat itu sebuah ilmu pengetahuan
yang mengandalkan penggunaan akal ( rasio ) sebagai sumbernya. Akal yang
digunakan sebagai sumber filsafat karena filsafat merupakan kegiatan dan proses
berfikir.
b.
Tujuan filsafat adalah mencari
kebenaran atau hakikat segala sesuatu yang ada.
c.
Objek material filsafat adalah
segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu ada yang mencakup “ ada yang tampak “
dan “ ada yang tidak tampak “. Ada yang tampak adalah alam dunia empiris, dan
ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Adapun objek formal filsafat
adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan objektif tentang yang ada ,
untuk diketahui hakikatnya.
d.
Metode yang digunakan dalam berfikir
filsafat adalah mendalam, sistematik, radikal, dan universal.
Dengan kelima unsur diatas, tampak bahwa filsafat merupakan sebuah
ilmu pengetahuan, karena memenuhi beberapa syarat ilmu pengetahuan.
Setelah filsafat
dapat dirumuskan pengertiannya, maka selanjutnya kita akan membahas tentang
pendidikan Islam. Untuk lebih rinci, mari kita lihat beberapa pendapat para
ahli tentang pendidikan Islam.
1.
Abdurrahman al-Nahlawi menyebutkan
bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses penataan individual dan social
yang dapat menyebabkan seseorang tunduk dan taat kepada Islam dan menerapkannya
secara sempurna dalam kehidupan individu dan masyarakat.
2.
Ali Ashrab menyebutkan bahwa yang
dimaksud pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas
murid-murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan,
langkah-langkah dan keputusan, begitu pula pendekatan mereka terhadap ilmu
pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan.
Jadi intinya adalah pendidikan akhlak.
Demikianlah,
begitu banyaknya pengertian pendidikan
Islam yang dikemukakan para pakar pendidikan Islam. Semuanya berbeda- beda
sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Hal ini menunjukan sulitnya merumuskan pengertian pendidikan Islam.
Meskipun terma
“filsafat “ dan “ pendidikan Islam “
telah diuraikan mengenai operasionalnya, namun untuk memahami filsafat
pendidikan Islam masih sulit. Oleh karena itu, sebagai langkah awal disini akan
dikemukakan beberapa pengertian filsafat pendidikan Islam menurut para ahli.
Ahmad D.
Marimba dalam buku “klasiknya “ berjudul pengantar filsafat pendidikan Islam
menyatakan bahwa filsafat pendidikan Islam terdiri dari kata filsafat,
pendidikan, dan Islam, namun demikian, ketiganya tidaklah berdiri sendiri-
sendiri melainkan mempunyai hubungan yang sangat erat menurut hukum DM (
Diterangkan Menerangkan ). Ketiga kata itu
iu mewakili satu pengertian yang buat dan tersendiri.
Muzayyin Arifin
dalam filsafat pendidikan Islam menulis :
“ filsafat pendidikan Islam pada
hakikatnya adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau
berlandaskan ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat
dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh
pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. “.
Dari kutipan diatas tampak bahwa arifin di dalam mengemukakan
pengertian filsafat lebih menekankan pada terma pendidikan islamnya dari unsur filsafatnya. Disini filsafat pendidikan Islam
harus memunculkan sebuah konsep tentang bagaimana pendidikan Islam melahirkan
dan mencetak pribadi muslim.
Sementara itu,
karena Filsafat Pendidikan Islam merupakan hal yang ambigius, sebaimana
filsafat itu sendiri, ‘Abdul- Rahman Salih Abdullah menawarkan agar terma “
Filsafat Pendidikan Islam “. Sebaiknya diganti saja menjadi “Teori Pendidikan
Islam “. Selain masalah ambigius ini, terma yang digunakan Al-Quran untuk merujuk
masalah filsafat adalah al-hikmah, yang pada intinya memiliki dua unsur,
yaitu ilmu pengetahuan dan amal.apabila disepakati Teori Pendidikan Islam
menggantikan terma “ Filsafat Pendidikan Islam “ maka :
“ the Islamic Theory of Education is
fundamentally based upon the Quranic concept. In this theory the door is left
oper for concept which come from different field of knowledge provided that
they fit the Quranic perspective. All element which cannot be reconciled with
Islamic principle should be exluded.”
( teori Pendidikan Islam secara
fundamental adalah berdasarkan konsep-konsep Alquran. Oleh karenanya, dalam
teori ini, pintu terbuka bagi konsep-konsep yang berasal dari bidang-bidang
pengetahuan lain yang berbeda yang memberikan dukungan terhadap perspektif
Alquran secara tepat. Sementara itu, semua unsur yang tidak dapat didamaikan
dengan prinsip-prinsip islam harus ditinggalkan ).
Dari beberapa
pendapat para ahli diatas, umumnya mereka memperdebatkan dua wacana Filsafat
Pendidikan Islam. Pertama, Filsafat Pendidkan Islam adalah filsafat tentang
pendidikan Islam. Kedua, Filsafat Pendidikan Islam adalah filsafat pendidikan
dalam perspektif Islam. Dari kedua wacana ini, penulis lebih cenderung
berpendapat bahwa Filsafat Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai filsafat
tentang pendidikan Islam, dan dapat juga diartikan sebagai filsafat pendidikan
menurut Islam. Yang jelas, dari kedua
pengertian ini, Filsafat Pendidikan Islam bagaimanapun juga adalah Filsafat.
Oleh karena itu, filsafat pendidikan Islam tidak berbeda dengan filsafat islam umumnya. Filsafat Pendidikan Islam
merupakan kajian filosofis mengenai
berbagai masalah pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam. Kajian filosofis
digunakan dalam Filsafat Pendidikan
Islam, dalam arti bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan pemikiran secara mendalam, sistematik,
radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat
mengenai pendidikan Islam. Filsafat Pendidikan Islam dengan demikian senantiasa
mengkaji filsafat pendidikan yang berlandaskan atau setidak-tidaknya dijiwai
ajaran Islam.
C.
Kedudukan
Filsafat Pendidikan Islam
Filsaat
pendidikan adalah “ general philosophy applied to education as a specivic area
of human endeavor “, demikian yang ditulis George R.Knight. maksudnya, filsafat
pendidikan tidak berbeda dengan filsafat pada umumnya. Perbedaannya terletak
hanya pada bidang garapannya saja, yaitu
masalah pendidikan. Oleh karena itu, filsafat pendidikan merupakan filsafat
terapan yang digunakan dalam bidang pendidikan. Dari pendapat Knight ini paling
tidak dapat diketahui dengan mudah mengenai kedudukan filsafat pendidikan dari pengetahuan filsafat secara umum, yaitu
sebagai filsafat terapan. Ini adalah
sebuah perspektif yang melihat filsafat pendidikan dari sudut ilmu filsafat.
Tinjauan ini disebut Imam Barnadib sebagai pandangan linier mengenai
filsafat pendidikan, yaitu bagaimana pemikiran filsafat dijabarkan dalam dunia
pendidikan. Oleh karena itu, dalam perspektif ini, yang dibahas adalah berbagai
aliran filsafat, seperti pragmatisme, realisme, idealisme, dan lain-lain, serta
berbagai pandangan aliran ini mengenai ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Kemudian bagaimana aliran –aliran ini diinterpretasikan dan diterapkan dalam
bidang pendidikan. Jadi Filsafat dan pendidikan dicarikan hubungannya secara linear
Bagaimana kalau
filsafat pendidikan dilihat dari perspektif ilmu pendidikan ? inilah yang
disebut sebagai perspektif atau tinjauan nonlinear mengenai filsafat
pendidikan. Disini diupayakan
ditampilkan mengenai jawaban filosofis tentang ruang lingkup dan masalah yang
dikandung dalam ilmu pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah ilmu tentunya
dihadapkan pada berbagai persoalan kemanusiaan yang menuntut tampilnya
pendidikan sebagai solusi.
Pandangan nonlinear
mengindikasikan bahwa ilmu
pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu ilmu pengetahuan yang membicarakan
masalah – masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak.
Komentar
Posting Komentar