Tugas kelompok
Mata Kuliah : Supervisi Pendidikan
Dosen : Weizer Udoki, S.Pd., M.Pd
JENIS DAN MODEL
SUPERVISI PENDIDIKAN
Oleh :
Kelompok II
1.
Harjunianti
2.
Abd.kadir
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM JURUSAN
TARBIYAH
ALMAWADDAH
WARRAHMAH
KOLAKA
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT, yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita sehingga makalah dengan judul “JENIS DAN MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN” dapat diselesaikan tepat waktu.
Makalah ini sebagai tugas dari mata kuliah SUPERVISI PENDIDIKAN. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa dapat
memahami lebih dalam tentang materi tersebut. Makalah ini tidak dapat
diselesaikan tanpa bantuan dan kerjasama dari rekan-rekan mahasiswa serta
bimbingan dari Dosen. Untuk itu kami ucapkan banyak terima
kasih.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupun
penyusunannya, sebagaimana kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”
kesempurnaan hanyalah milik Allah swt.
Akhirnya perlu kami sampaikan bahwa makalah
ini selalu terbuka untuk menerima masukan berupa kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan dari dosen, rekan-rekan mahasiswa maupun yang
membaca makalah ini. Terima kasih.
Kolaka, 17
Maret 2014
Kelompok III
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG............................................................................ 1
- RUMUSAN MASALAH....................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
- Jenis supervisi pendidikan....................................................................... 3
a. Supervisi umum dan supervisi pendidikan........................................ 5
b. Supervisi klinis …………................................................................. 7
- Model supervisi pendidikan..................................................................... 7
a. Model Konvensional ( Tradisional ).................................................. 8
b.
Model
Supervisi Artistik…............................................................... .. 10
c.
Model
Supervisi Ilmiah …............................................................... .. 11
d. Model Supervisi Klinis……… ….................................................... .. 12
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.............................................................................................. 13
B. Saran........................................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap kegiatan atau pekerjaan yang
dilakukan di sekolah maupun di kantor-kantor
memerlukan adanya supervisi agar sebuah pekerjaan dapat berjalan dengan lancar
dan mencapai tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan banyaknya jenis
pekerjaan yang dilakukan oleh guru-guru maupun para kepala sekolah dan pegawai,
karyawan, dan atau staf sekolah, mengacu kepada beberapa uraian tentang supervisi
pendidikan, dapat dijelaskan bahwa supervisi didalam dunia pendidikan dibedakan
menjadi dua macam, yaitu supervisi umum dan pengajaran.
Betapa pentingnya supervisor
memahami jenis dan model-model supervisi pendidikan sebagai bekal pengetahuan (
knowledge ) dan keterampilan ( skill ) untuk menjalankan tugas,
fungsi, dan tanggung jawabnya sebagai supervisor pendidikan yang professional.
B.
Rumusan
Masalah
a.
Jenis-jenis
Supervise Pendidikan
b.
Model-model
Supervisi Pendidikan
C.
Tujuan
penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah
ini adalah sebagai berikut :
a.
Menambah
pengetahuan dan wawasan kita tentang jenis dan model supervisi pendidikan
b.
Sebagai
bentuk pemenuhan tugas sebagai syarat mengikuti mata kuliah supervisi
pendidikan yang telah terstruktur
c.
Sebagai
bahan bacaan bagi rekan-rekan mahasiswa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Jenis Supervisi Pendidikan
Penulis berpendapat bahwa supervisi di dalam dunia dapat dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu supervisi umum dan pendidikan. Di samping kedua jenis
tersebut, kita mengenal pula istilah supervisi klinis. Untuk memperjelas
pengertian dan perbedaan jenis –jenis supervisi tersebut diikuti pada uraian
berikut.
1.
Supervisi Umum dan supervisi pendidikan.
Supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap
kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung berhubungan dengan
usaha perbaikan pengajaran, seperti supervisi terhadap pengelolaan bangunan dan
perlengkapan sekolah atau kantor-kantor pendidikan , supervisi pengelolaan
keuangan atau kantor pendidikan dan sebagainya.
Sementara yang dimaksud dengan supervisi pendidikan ialah
kegiatan-kegiatan kepengawasan yang di tujukan untuk memperbaiki
kondisi-kondisi baik personel maupun material yang memungkinkan terciptanya
situasi belajar mengajar yang lebih baik demi terciptanya tujuan pendidikan.
2.
Supervisi Klinis
Richard Waller memberikan defenisi tentang supervisi klinis sebagai
berikut “ supervisi klinis “ adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan
pengajaran dengan siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan,
dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya
dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang rasional.
Salah satu supervisi akademik yang sangat terkenal adalah supervisi
klinis yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
a.
Bertujuan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
b.
Diberikan
kepada guru berupa bantuan, bukan perintah sehingga inisiatif berada ditangan
guru.
c.
Aspek
yang disupervisi berdasarkan usulan guru, yang dikaji bersama kepala sekolah
sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan.
d.
Instrumen
dan metode observasi dikembangkan bersama
oleh guru dan kepala sekolah secara kalaboratif
e.
Kegiatan
supervisi dilakukan secara tatap muka, ndalam suasana bebas, dan terbuka.
f.
Kepala
sekolah sebagai supervisor lebih banyak
mendengarkan dan menjawab pertanyaan guru daripada memberi arahan.
g.
Kegiatan
supervisi klinis sedikitnya mencakup tiga tahap, yaitu pertemuan awal,
pengamatan, dan pertemuan umpan balik.
h.
Adanya
penguatan terhadap perubahan perilaku yang positif sebagai hasil pembinaan
i.
Dilakukan
secara berkelanjutan dan berkesinambungan
B.
Model supervisi pendidikan.
Menurut makawimbang ( 2011 ), dalam praktik supervisi pendidikan,
dikenal beberapa model supervisi yang selama ini sadar atau tidak sadar
diimplementasikan oleh supervisor dalam pelaksanaan tugasnya. Setiap model
memiliki karakteristik atau kelebihan dan kekurangannya.
Oleh karena
itu, memahami model supervisi memiliki banyak keuntungan tersendiri bagi siapa
pun yang berprofesi sebagai supervisor pendidikan. Dalam beberapa referensi
supervise pendidikan dikenal beberapa model supervisi pendidikan yang
dikembangkan dan yang selama ini telah diterapkan dalam dunia pendidikan atau
satuan pendidikan, yang menurut sahertian ( 2008 ) adalah sebagai berikut.
1.
Model Konvensional ( Tradisional )
Model
supervise konvensional adalah model yang diterapkan pada wilayah yang tradisi
dan kultur masyarakat otoriter dan feodal. Pada wilayah ini cenderung
melahirkan penguasa yang otokrat dan
krektif.
Seorang
supervisor dipahami sebagai orang yang memiliki power untuk mementukan nasib
guru. Karenanya, dalam perspektif behavior, seorang yang menerapkan
model ini selalu menampakkan perilaku atau aksi supervise dalam bentuks speksi
untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan bahkan sering kali memata-matai
objek, yaitu guru. Perilaku memata-matai ini disebut dengan istilah snoopervision
atau juga sering disebut sebagai supervisi korektif.
Bila
diamati lebih mendalam, praktik supervisi konvensional bersifat kontradiktif
dengan makna dan tujuan supervisi , yaitu membimbing kepala sekolah dan guru
guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan professional mereka dalam
melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pimpinan dan pendidik di sekolah.
Memata-matai
dan mencari kesalahan dalam konteks membimbing guru cenderung melahirkan
inflikasi negative terhadap perilaku itu sendiri. Wajar jika kemudian para guru
merasa tidak puas, takut, menjauh, tidak akrab, acuh tak acuh, benci, bahkan
menantang ( agresif ) dan malas berjumpa dengan supervisor di sekolahnya.
Perasaan-perasaan yang demikian ini akan memunculkan image yang kurang baik
bagi supervisor itu sendiri. Padahal kepala sekolah, guru dan supervisor adalah
partner dalam memajukan pendidikan.
Model
supervisi konvensional pada praktiknya sering menyebabkan supervisor yang semestinya adalah orang hebat dalam
memberikan bimbingan dan pelayanan kepada kepala sekolah atau guru guna
peningkatan mutu pendidikan.
Apa
yang sesungguhnya diharapkan dari
seorang supervisor seperti yang seharusnya dinyatakan oleh Willes dan Ngalim
purwanto ( 2007 ), yaitu seorang supervisor berurusan dengan persiapan
kepemimpinan yang efektif. Untuk melaksanakan dan mengembangkan perasaan
sensitivitasnya terhadap perasaan-perasaan orang lain ( kepala sekolah, guru,
staf sekolah dan para peserta didik ), untuk memperluas ketetapannya tentang
anggapannya terhadap kelompok mengenai hal-hal yang penting agar selanjutnya
lebih dapat melaksanakan hubungan-hubungan kerja sama yang kooperatif, untuk
berusaha mencapai tujuan –tujuan yang lebih tinggi bagi dirinya sendiri, dan
untuk lebih sering berhubungan dengan mereka di dalam kelompok yang bekerja
dengannya.
Untuk
itu, model supervisi konvensional dalam supervisi pendidikan di era reformasi
seperti sekarang ini seharusnya tidak dipakai lagi oleh supervisor. Model
supervisi ini sebaiknya ditinggalkan dan tidak dipaksakan untuk diterapkan
supervisor dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya. Karenanya,
supervisor saat ini da kedepan semakin
berat. Tugas yang semakin berat ini
mustahil bisa dikerjakan tanpa kolaborasi, menjalin kerja sama dan berhubungan
secara harmonis, dan ber-partner dengan pihak-pihak terkait seperti kepala
sekolah, guru, staf sekolah, peserta didik, dan semua unsur pimpinan disekolah.
2.
Model Supervisi Artistik
Mengajar
adalah suatu pengetahuan. Mengajar merupakan keterampilan tetapi juga suatu
seni. Sejalan dengan tugas pengajar dan pendidik yang kegiatannya memerlukan
pengetahuan, keterampilan dan seni.jadi, model supervisi artistic yang
dimaksudkan disini adalah ketika supervisor melakukan kegiatan supervisi
dituntut berpengetahuan, berketerampilan, dan tidak kaku dalam kegiatan
supervisi juga mengandung nilai seni ( Art ).
Model
supervise artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang kain (working
for the others),bekerja dengan oranng lain (working with the others), dan
bekerja melalui orang lain (working through the others)
Supervisor
dalam model supervisi artistic ini ingin menjadikan kepala sekolah, guru, dan
staf sekolah menjadi dirinya sendiri, diajak bekerja sama, saling tukar dan
konstribusi ide pemikiran, memutuskan dan menetapkan bagaimana seharusnya
mengelola sekolah yang baik dan guru mengajar dengan baik untuk sama-sama
berusaha meningkatkan mutu pendidikan.
Pada
praktiknya, model supervise artistik ini mempunyai beberapa ciri khusus yang harus diperhatikan oleh
supervisor sebagai berikut.
a.
Memerlukan
perhatian khusus agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
b.
Memerlukan
tingkat perhatian yang cukup dan keahlian yang khusus untuk memahami apa yang
dibutuhkan oleh orang lain.
c.
Mengutamankan
sumbangan yang unik dari guru-guru untuk mnegembangkan pendidikan bagi generasi
muda.
d.
Memerlukan
laporan yang menunjukan bahwa dialog antara supervisor dengan yang disupervisi
dilaksanakan atas dasar kepemimpinan dari kedua belah pihak.
e.
Memerlukan
kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap
orang lain.
3.
Model Supervisi Ilmiah
Supervisi
ilmiah sebagai sebuah model dalam supervisi pendidikan dapat digunakan oleh supervisor untuk menjaring informasi
atau data dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan
angket.
Model supervisi
ilmiah menurut Sahertian (2008) mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a.
Dilakukan
secara berencana dan kontinu
b.
Sistematis
dan mengutamakan prosedur dan metode / teknik tertentu
c.
Menggunakan
instrument pengumpulan data yang tepat
d.
Menggunakan
alat penilaian berupa angket yang mudah dijawab.
e.
Angket
disebar kepada siswa atau guru-guru sejawat.
4.
Model Supervisi Klinis
Morris
Cogan (1973) mendefenisikan clinical supervision sebagai latar dan
praktik yang didesain untuk mengembangkan performa guru dikelas.
Senada
dengan pendapat tersebut, Flander (1976) melihat pengawasan clinical sebagai
sebuah teaching khusus yang mana setidaknya ada dua orang yang bersangkutan
akan diperbaiki. Kegiatan ini juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja
guru dan merangsang perubahan dakam mengajar.
Selanjutnya,
model supervisi klinis ini mempunyai beberapa ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Bantuan
yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah.
b.
Harapan
dan dorongan timbul dari guru itu sendiri
c.
Guru
memiliki satuan tingkah laku mengajar yang terintegrasi.
d.
Suasana
dalam pemberian supervisi penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
e.
Instrument
yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara guru
dengan supervisor.
Sementara
prinsip-prinsip model supervisi klinis, antara lain sebagai berikut :
a.
Pelaksanaan
supervisi harus berdasarkan inisiatif
dari guru lebih dahulu
b.
Menciptakan
hubungan manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan.
c.
Menciptakan
suasana bebas untuk mengemukakan apa yang dialaminya.
d.
Objek
kajianny adalah kebutuhan professional guru yang riil dan alami.
Jadi,
model supervisi klinis dapat dikatakan bertujuan untuk mengadakan perubahan
terhadap perilaku, cara, dan mutu mengajar guru yang sistematik. Model ini
difokuskan pada peningkatan mengajar melaui siklus yang sistematik, dalam
perencanaan, pengamatan serta analisis yang interaktif dan cermat tentang
penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang
rasional.
Menurut
Makawimbang (2011), tahapan operasional
model supervisi klinis dalam supervisi pendidikan dilakukan melalui suatu
siklus-siklus yang terdiri dari tiga siklus sebagai berikut.
1.
Tahap
pertemuan awal ( perencanaan )
Pada
tahap ini, supervisor dan guru perlu membangun komunikasi, menyatukan persepsi, menciptakan suasana yang harmonis,
terbuka, dan akrab.
2.
Tahap
pelaksanaan observasi
Pada
tahap pelaksanaan observasi, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas
sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati pada tahap pertemuan awal.
3.
Tahap
akhir ( analisis dan Diskusi Balikan )
Pada tahap akhir siklus model
supervisi klinis adalah analisis hasil pasca-observasi. Supervisor mengevaluasi
semua kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tahap demi tahap dengan
tujuan untuk memperbaiki performance guru.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara
teoritik dan empiric, kehadiran supervisor dalam implementasi supervisi
pendidikan masih diperlukan dan merupakan sebuah keniscayaan. Keniscayaan itu
penting sebab mengelola satuan pendidikan dan melaksanakan pembelajaran yang
baik memerlukan kebersamaan semua pihak terkait. Supervisor termasuk unsure
terkait dalam mengelola hal ini sehingga keterlibatan supervisor diharapkan
membawa dampak positif terhadap manajemen pengelolaan satuan pendidikan dan
mampu memberi bimbingan kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran yang
baik dan bermutu.
Jenis
dan model supervisi pendidikan secara konseptual tersedia dan ilmiah, tinggal
bagaimana supervisor memilah dan memilih dalam tatanan implementasi disekolah
dan tentu harus berdasarkan beberapa pertimbangan rasional, apa yang menjadi
keinginan dan harapan kepala sekolah, guru, dan staf sekolah dijadikan masukan
bagi supervisor untuk menentukan dan memastikan jenis dan model supervisi
pendidikan apa yang harus digunakan.
B.
Saran
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tak luput dari
kesalahan sebagaimana kata pepatah “ Tak ada gading yang tak retak “ sehingga
saran dan masukan dari teman-teman yang sifatnya membangun sangat kami harapkan
demi perbaikan makalah kami yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar